SELAMATKAN DIENG KITA!

Sebuah sarana bagi saya untuk berlatih menulis esai. mohon kritik dan sarannya

-Suci Trisenta M

            one destination is never a place, but a new way of seeing things” – Henry Miller.  Bagaimanapun, entah dimana dan kapanpun, kita sangat perlu untuk pada lingkungan kita.  Pada lingkungan yang mendampingi kehidupan kita semua. Seperti yang diungkapkan Henry Miller, kita perlu sesekali memandang lingkungan kita dan membantunya dalam menghadapi masalah seperti yang dialami oleh wilayah Dieng, wilayah yang mencakup Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Negeri para dewa dewi berada, dengan segala kesederhanaannya dan keindahannya. Bukan tanpa halangan atau rintangan kesana, hujan terasa basah serta detik terhitung lama. Dingin menggigil, tanpa hangat kurasa… menanjak naik menuju awan mendung disana. Itulah ungkapan hati dari Syahbana Susanto. Tergambar jelas bahwa dataran tinggi Dieng sangat mempengaruhi psikologi penduduknya. Dieng sebagai tempat telah berhasil menarik perhatian kita untuk dicermati.              

            Dieng dapat dicermati dengan slogan“Explore. Dream. Discover” yang diungkapkan Mark Twain, dimana seharusnya menginspirasi kita untuk mengeksplorasi lebih jauh terkait bagaimana dan apa yang terjadi di sekitar kita termasuk Dieng. Daerah yang mendapat julukan Negeri di Atas Awan yang memiliki pemandangan yang luar biasa dengan ‘Golden Sunrise’ di penghujung fajar. Saya bermimpi semua orang dapat menikmati indahnya pemandangan itu. Dengan menjadikan alam tetap asri dan tidak penuh dengan limbah. Saya masih ingat ketika teman Sekolah Menengah Pertama saya berusaha mencari apa yang dpat diperbaiki dari Dieng yang sudah luar biasa ini. Ternyata Dieng yang luar biasa dapat juga runtuh karena pada saat itu dan hingga sekarang, masih maraknya penggunaan pestisida yang berlebihan. Inilah mengapa saat itu ditulislah karya tulis ilmiah dengan judul “Selamatkan Dieng Dari Pestisida”. Dan karya ini mendapat respon yang luar biasa apalagi dilakukan penelitian lanjutan dengan mengupas sisi perilaku masyarakat Dieng yang juga berpengaruh pada kondisi Dieng. Dieng masih dapat terus kita observasi dan rawat untuk diselamatkan. Jaya Dieng! Jaya kita semua! Karena sudah pasti dapat dipercaya bahwa setiap usaha tidak akan sia-sia.  
            Usaha akan ada hasilnya, termasuk saat berusaha untuk menjaga Dieng yang Mungkin ini adalah surga, ketika sebuah indah menjadi begitu sederhana. Dengan ramah tamah warga dan senyum hangat terukir menyapa setiap langkah. Gelak tawa terasa ceria kala berkumpul bersama sama sambil menikmati senja.  Puisi yang dilontarkan oleh Syahbana Susanto ini melukiskan perasaan kita yang sedang menikmati indahnya mutiara dari salah satu negeri di atas awan di Pulau Jawa. Mulai dari suasana ramah, pemandangan menakjubkan dan segudang misteri lainnya sesuai slogan Kabupaten Wonosobo ‘Beautiful, Mystic and Mystery’ diharapkan Dieng dapat menjadi wisata unggulan di Pulau Jawa.

            Di Pulau Jawa kicauan burung sunyi dihempas angin dingin, mentari pun malu menampakkan sinarnya. Selangkah demi selangkah kecil dilalui menuju atas awan menghampirii pagi. Secangkir kopi pun dibuat diatas trangia berapi kecil, dengan perlahan mentari menyapa. Dieng Plateu, Keindahan dalam kesederhanaan yang membuat semua orang terpana. Kecerian warga dan ramah tamah membuat semua ingin kembali kesana. Bukit Sikunir, Anak Gimbal, Purwaceng, Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Telaga Warna. Dieng Plateu, adalah sebuah negeri surga diatas awan tempat tinggal para dewa. Hamparan kata sejuk tentang kebanggan kita, Dieng yang tercinta, oleh Syahbana Susanto, ingatkan kita pada Dieng yang sedang bersedih.

Kesedihan itu tampak dari sedang terancamnya Dieng akan degradasi lingkungan yang sangat meghawatirkan bagi kehidupan generasi penerus kita. Keadaan itu nampak jelas di kawasan Dieng (± 2.095 meter dpl) menghadapi ancaman degradasi lingkungan parah seperti dengan adanya tanah longsor maupun banjir di beberapa wilayah. Selain itu, kepadatan penduduk yang tinggi dengan rata-rata 100 jiwa/km², menyebabkan besarnya tekanan terhadap SDA yang ada, berupa pengalihan fungsi lahan kawasan lindung menjadi lahan budidaya pertanian dan perkebunan yang intensif.

Saat ini sekitar 7.758 hektare lebih lahan di Dieng (di kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara) sudah menjadi tanah kritis dengan tingkat erosi mencapai mencapai angka 10,7 mm/tahun atau rata-rata sebesar 161,ton/hektare/tahun. Di tahun 2002, terhitung tingkat erosi di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu mencapai 4,21 mm per tahun. Sebelumnya, tingkat erosi di tahun 1990 tidak pernah melebihi 2 mm per tahun. Erosi di DAS Serayu tersebut menyebabkan pertambahan sedimen di Waduk Sudirman, Mrica, Banjarnegara, sejak tahun 1989. Pendangkalan di waduk ini telah mencapai 60,106 m3 atau 40% dari kapasitas waduk. Penambahan sedimen tertinggi terjadi selama tahun 2000 (7,106 m3) pada saat terjadi penggundulan hutan besar-besaran di dataran tinggi Dieng. Itulah data yang didapat dari website atau laman milik FKH Kabupaten Banjarnegara, yang perlu dicermati dan dianalisis untuk hasilkan solusi dari rusaknya lahan di Dieng.             Dugaan sementara menyatakan akar dari kompleksitas permasalahan degradasi lahan dan lingkungan di Kawasan Dataran Tinggi Dieng ini adalah dengan minimnya kepemilikan lahan, penanaman kentang tanpa adanya siklus yang didasari dengan motif ekonomi, rendahnya kesadaran masyarakat dan kurangnya koordinasi antar sektor pembangunan wilayah Dieng yang ditandai dengan tidak samanya hasil wawancara saya terhadap TKPD (Tim Kerja Pemulihan Dieng), Perhutani maupun Dinas Kehutanan dan Perkebunan tahun 2014 terkait pembangunan dan kondisi Kawasan Dieng. Tentu tak dapat dipungkiri ada banyak faktor yang menjadikan kondisi Kawasan Dieng perlu perhatian khusus.

Beberapa studi, antara lain yang dilakukan oleh Java Learning Center bersama Tim Kerja Pemulihan Dieng tahun 2007 dan studi Bramasto Nugroho (2008) juga menggarisbawahi akar permasalahan yang terjadi di Dieng dan potensi dampak yang ditimbulkan, antara lain yaitu tingkat pemanfaatan yang tidak diikuti dengan pengelolaan sumberdaya lahan yang berkelanjutan, menyebabkan terlampauinya daya dukung kawasan. Kedua, karakteristik hak kepemilikan pribadi (private property rights) yang otonom dalam pengambilan keputusan menyebabkan masyarakat memanfaatkan lahan milik tanpa memperhitungkan eksternalitas yang dihasilkannya. Ketiga, keputusan-keputusan yang dibuat umumnya didasarkan pada rasionalitas jangka pendek dan untuk kemanfaatan individu, sementara kemanfaatan jangka panjang dan perlindungan lingkungan untuk kemanfaatan sosial jarang dijadikan acuan. Keempat, potensi dampak negatif pemanfaatan sumberdaya lahan dan hutan yang eksploitatif antara lain banjir, tanah longsor, sulitnya memperoleh air dengan kualitas dan kuantitas yang memadai dan rusaknya kawasan wisata menjadi beban bagi orang lain. Maka sejak tahun 2007 telah dilakukan inisiatif Program Pemulihan Dieng (PPD) oleh Pemkab Wonosobo. Program ini berkolaborasi dengan beberapa pihak, termasuk LSM,  pakar, serta lembaga donor. Aktifitas masih berjalan sampai sekarang dalam berbagai bentuk, yang bertujuan mengembalikan fungsi lindung kawasan Dieng tanpa mengabaikan kepentingan ekonomi, lingkungan dan sosial budaya masyarakat. Itulah data yang saya dapat ketika meneliti Dieng dari sisi perilaku masyarakat yang perlu sekali mendukung program pemerintah dalam upaya perawatan lingkungan.

Upaya perawatan itu bertujuan untuk memulihan kerusakan yang terjadi di Kawasan Dieng. Menurut Setiawan (1999) tanah kritis merupakan tanah yang telah mengalami atau dalam proses kerusakan fisik, kimia, atau biologi yang akhirnya membahayakan fungsi ekonomi dari daerah lingkungan pengaruhnya. Hal ini disebabkan oleh ketidaksesuaian antara penggunaan tanah dengan kemampuannya. Inilah yang terjadi di Kawasan Dieng karena perilaku masyarakatnya sendiri. Selain itu, degradasi adalah hasil satu atau lebih proses terjadinya penurunan kemampuan tanah secara aktual maupun potensial untuk memproduksi tenaga dan jasa. Sedangkan degradasi lahan adalah kemunduran produktifitas baik sementara maupun tetap, yaitu kemunduran terhadap tanah, iklim sumber daya air, topografi dan vegetasi. Ciri yang paling mudah untuk melihat lahan mengalami degradasi ataupun tidak, dapat dilihat dari tanah dan tanaman yang ada di atasnya akan mengalami kerusakan. Hal ini disampaikan dalam laman http://lensa-alam-dan-dunia.blogspot.com/2013/07/degradasi-tanah.html.

Kronologi budidaya di Kawasan Dieng saat ini adalah tanaman kentang yang tumbuh, berkembang dan panen dengan paksaan pestisida dan fungisida semakin lama semakin naik dosisnya sehingga akan terjadi hasil panen kentang lebih rendah dari biaya tanamnya. Pada saat itu bencana ekonomi dan ekologi akan terjadi, di saat tanah sudah tidak bisa ditanami lagi, masyarakat kehilangan mata pencaharian, sumber mata air sudah kering, dan erosi mengancam setiap waktu. Sampai pernah juga disebutkan bahwa kentang yang dihasilkan dari Kawasan Dieng, 95 persen kandungannya sudah berupa pestisida.

Salah satu solusi yang dapat diberikan yaitu dengan mulai mensosialisasikan tanaman Kopi Arabica di wilayah kecamatan Batur dan dataran tinggi Dieng.  Dimana, Kopi Arabica adalah jenis kopi yang mempunyai nilai jual yang tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dataran Tinggi Dieng yang mempunyai suhu udara antara 16 derajat hingga 24 derajat Celcius, cocok untuk pertumbuhan jenis kopi ini. Kopi Arabica hidup di ketinggian 700 – 1700 mdpl (meter di atas permukaan laut) merupakan kopi yang berasal dari Brazil, dan sekarang menjadi kopi terbaik di Indonesia dan sudah di exspor ke berbagai belahan dunia. Tanaman ini bisa mengganti tanaman kentang yang nilai ekonominya terus merosot karena tingginya biaya produksi. Tanaman ini juga bisa hidup di bawah tanaman tegakan seperti eucalyptus (kayu putih), pinus, cemara, atau tanaman lain, sehingga lahan pertanian dapat bersifat heterocultur atau agroforestry. Biaya produksi tanaman kopi Arabica juga tergolong rendah, tidak memerlukan pestisida dan fungisida yang berlebihan. Tentu saja hal ini berangsur-angsur akan mengembalikan kerusakan lingkungan yang terjadi pada saat ini.

Selain itu berdasarkan wawancara kepada Kepala Tim TKPD tahun 2014, dapat juga dilakukan pengistirahatan lahan selama kurang lebih 5 tahun untuk mengembalikan unsur hara yang menurun karena penanaman yang terus menerus.

Karena Petani di dataran tinggi Dieng umumnya bercocok tanam sayuran pada bedengan-bedengan dengan kemiringan lahan di atas 30% tanpa upaya-upaya melestarikan lahan atau mengendalikan erosi. Bedengan-bedengan tersebut dibuat searah dan sepanjang lereng tanpa upaya memperpendek atau memotong panjang lereng. Kebiasaan menanam sayuran seperti itu bertujuan untuk menciptakan kondisi aerasi atau drainase dan kelembaban tanah yang baik. Kondisi aerasi tanah yang buruk dapat membahayakan pertumbuhan tanaman sayuran. Pada umumnya, petani di sana membuat bedengan atau guludan searah lereng pada terasering. Namun tanpa upaya menstabilkan terasering tersebut, sehingga pada bibir terasering cenderung mengalami longsor. Terasering tersebut umumnya miring keluar sehingga terjadi erosi. Selain itu, pada ujung luar terasering (talud) tidak ditanami tanaman penguat dan permukaan tanah pada tampingan terasering juga terbuka atau bersih tidak ada tanaman. Akibat dari erosi tersebut, sedimentasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) semakin meluas serta terjadi penurunan kesuburan di dataran tinggi Dieng. Hal ini dikarenakan zat hara tanah yang terkandung di lapisan teratas tanah hanyut terseret arus air. Miskinnya  zat hara tanah berakibat pada penurunan produktivitas lahan pertanian. Sehingga perlu adanya pendidikan atau sosialisasi terhadap masyarakat dan pengawasan terkait pelaksanaan budidaya maupun ekonomi di Dieng.

Kerusakan lahan di Dieng dapat juga diatasi dengan diadakannya penghijauan yang menurut Setiawan,  penghijauan merupakan suatu usaha yang meliputi kegiatan-kegiatan penanaman tanaman keras dan rerumputan serta pembuatan teras dan bangunan pencegah erosi lainnya. Kegiatan tersebut dilakukan diluar areal hutan negara atau areal lain yang berdasarkan rencana tata guna tanah tidak diperuntukkan sebagai hutan. Manfaat utama dari penghijauan adalah untuk memulihkan kembali daerah kritis yang dapat mengancam keselamatan hutan. Tentunya manfaat ini mempunyai dampak yang berantai sebab akan menjamin ketersediaan sumber daya alam termasuk didalamnya air yang menjadi kebutuhan penting manusia. Selain itu kondisi ini akan menghindarkan beberapa bencana seperti banjir, longsor dan kekeringan. Walaupun begitu pada kenyataannya masih saja ada masyarakat Dieng yang mencabut bibit pohon yang telah ditanam. Tentu ini sangat  disayangkan mengingat diperlukannya kerjasama dalam menjaga lingkungan.

Pemerintah dapat berusaha melalui ketegasan dalam kebijakan yang diambil haruslah memikirkan kelestarian hutan. Pemerintah dan para penegak hukum juga harus memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada pelaku pembalakan liar dan para cukong yang berada dibalik pelaku pembalakan liar itu. Pemerintah juga harus menindak tegas orang-orang yang telah melakukan pencurian sumber daya hutan serta para pelaku perusak hutan. Hukum tak pandang bulu, walaupun seorang pejabat kepala daerah yang melakukan harus dihukum seberat-beratnya.

Pertama yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu penegakan hukum inilah yang jadi pangkal masalah sehingga pembalak liar dan para backing yang merupakan penegak hukum itu sendiri, cukong dan bahkan kepala daerah tetap melenggang bebas walaupun sudah jelas terbukti melakukan pengrusakan hutan dengan memberi izin yang menyalahi aturan kelestarian hutan.

Kedua, dengan menerapkan birokrasi paperles karena kebijakan pemerintah atau birokrasi pemerintahan masih banyak menggunakan kertas-kertas. Hal ini sangat tidak mendukung terhadap kelestarian hutan. Apalagi setelah reformasi dengan kebijakan pilkada yang menggunakan kertas yang semakin banyak dengan mencetak jutaan dan bahkan ratusan juta surat suara yang telah menghabiskan berbatang-batang pohon kayu untuk kebutuhan kertas-kertas itu. Belum lagi kebijakan ujian-ujian yang diselenggarakan untuk kelulusan sekolah dan juga masuk perguruan tinggi dan kedinasan, semua menggunakan kertas-kertas. Apalagi kertas-kertas yang digunakan sehari-hari untuk dokumen dan surat-surat di kantor-kantor pemerintah yang tak terhitung lagi berapa tiap tahun yang dihabiskan. Semua itu bisa dikurangi dengan menggunakan kebijakan penerapan e-goverment yang mengaplikasikan birokrasi online. Hal-hal yang dulu menggunakan kertas bisa dikurangi bahkan ditiadakan (paperless).Jika pemerintah mau menerapkan kebijakan ini, niscaya penggundulan hutan untuk bahan baku kertas bisa diminimalis bahkan dapat dihilangkan.

Ketiga, menggalakan pariwisata hutan, dengan melakukan pelestarian maka ekonomi kehutanan berkurang akibat dihentikannya penebangan hutan untuk industri furniture, kertas dan bahan bangunan. Sebagai penggantinya pemerintah bisa menggalakan pariwisata hutan. Pemerintah bisa membangun wisata alam yang selama ini sudah dibangun di beberapa tempat misalnya di taman hutan Gunung Leuser Sumatera Utara dan Taman Nasional Ujung Kulon di jawa Barat. Jika dikelola denga profesional maka wisata alam dan hutan ini akan menambah devisa negara di sektor pariwisata dan akan menambah pemasukan kas negara. Tak perlu pesimis bahwa wisata hutan tak diminati, bahkan para turis mancanegara lebih senang berwisata di hutan-hutan di indonesia ini.

Keempat, kebijakan semua hutan adalah hutan lindung sehingga pemerintah harus menerapkan kebijakan bahwa semua hutan adalah hutan lindung, yang wajib dilindungi dan dilestarikan. Tindak berat kepada siapa saja yang melakukan penebangan liar di setiap hutan di negeri ini. Dengan kebijakan ini maka kerusakan hutan bisa dikurangi sedikit demi sedikit.

Kelima, reboisasi tepat sasaran dan perawatan pasca reboisasi dimana pemerintah harus melakukan reboisasi yang tepat sasaran dan harus melakukan pengawasan dan perawatan setelah dilakukan reboisasi. Perawatan pohon yang ditanam memerlukan dana yang tak sedikit. Apalagi untuk melakukan pemupukan dan penyiraman setiap pohon yang ditanam. Ini erat kaitannya dengan keberhasilan proses reboisasi itu sendiri. Tak jarang pohon yang telah ditanam dirusak oleh orang yang tak bertanggung jawab atau bahkan pohon yang baru bersemi dimakan oleh hewan-hewan liar atau malah hewan-hewan ternak milik masyarakat. Jika tidak dilakukan pengawasan dan perawatan reboisasi tidak akan berhasil dengan maksimal.

Selain pemerintah, masyarakat juga harus berperan aktif dalam melakukan pelestarian dan penghijauan hutan kembali (reboisasi). Tanpa peran serta dan dukungan masyarakat maka kelestarian hutan juga tidak dapat dikendalikan. Masyarakat dapat berperan dengan menanamkan kesadaran pentingnya hutan. Masyarakat harus tahu hal itu, sejak dini anak-anak dan remaja harus didik untuk sadar lingkungan dan kelestarian hutan. Orang tua dan guru harus terus mengkampanyekan pentingnya hutan agar tertanam dalam bawah sadar mereka bahwa kerusakan hutan akan juga merusak kelangsungan hidup manusia. Jika kesadaran itu sudah tumbuh, maka masyarakat akan saling bekerja sama menjaga kelestarian hutan dan segera melapor atau mencegah dengan sendirinya jika ada orang-orang yang hendak merusak atau menebang pohon-pohon di hutan di sekitar mereka.

Kedua, menghilangkan kebiasaan ladang berpindah-pindah, apalagi bagi masyarakat petani harus dihindari pembukaan lahan hutan untuk pembuatan ladang yang berpindah-pindah. Ini juga penyebab kerusakan hutan yang mungkin masih sering terjadi terutama di daerah-daerah terpencil. Dan juga dengan membiasakan menanam pohon, menjaga lingkungan hidup, menghemat air bersih dan mendaur ulang sampah maupun hal-hal hingga menjadi barang berguna.

Diharapkan sekali masyakat dan pemerintah dapat bersama untuk merawat lingkungan supaya tercipta dan terjaganya kondisi yang diinginkan, sehingga akan ada kemajuan dan pembangunan yang mendukung kehidupan kita semua. Selamatkan lingkungan kita atau lebih baik mati hingga tak menjadi beban untuk orang lain dan berbuat kerusakan. Berbagai gagasan telah dilontarkan untuk itu mari berjuang bersama untuk lingkungan. Dari kita yang menjaga, oleh kita yang menikmati dan untuk kita wariskan. Salam Peduli!

Iklan

POLIGAMI, PEREMPUAN DAN HARTA

POLIGAMI, PEREMPUAN DAN HARTA

(SEBUAH ESAI BERDASAR PENELITIAN TENTANG PENGARUH NEGATIF POLIGAMI DI INDONESIA TERHADAP AKSES ISTRI/PEREMPUAN KE PROPERTI DAN INVESTASI OLEH NINA NURMILA MAHASISWI UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG)

Sebuah ajang latihan dalam membuat esai, bila ada kekurangan maupun kelebihan saya mohon maaf, kritik dan saran.

Tahukah anda? Tentang film-film atau media hiburan yang ada saat ini? Seperti film dengan judul ‘Surga yang Tak Dirindukan’ maupun ‘Ayat-Ayat Cinta’? Terdapat pula novel The Girls of Riyadh, mereka semua mengangkat tema yang sama yaitu POLIGAMI. Suatu hal yang memiliki pendukung dan yang kontra juga ada. Lalu, bagaimana hubungannya dengan perempuan maupun harta? Anda bisa bayangkan pada kasus peceraian, pernikahan, dan poligami mungkin juga nikah siri yang seringkali terjadi di Indonesia. Tapi ini bisa jadi suatu tanda akan datangnya zaman akhir dengan disebutkannya bahwa ada saatnya jika perempuan akan 50 kali lebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki. Namun, walaupun begitu ada baiknya untuk mencegah apapun dampak negatif dari poligami. Baik pemerintah maupun masyarakat perlu peduli betul terhadap hal semacam ini, supaya kenyamanan hidup yang diinginkan terwujud.

Dimulai dari Pemerintah Indonesia yang mengatur poligami dengan adanya hukum pernikahan tahun 1974. Hukum ini diinisiatif sekitar tahun 1920 oleh organisasi wanita di Indonesia. Meskipun mendapat banyak rintangan terutama dari kalangan mayoritas yaitu umat muslim. Contohnya isu poligami, organisasi wanita sekuler, dan perbedaan pendapat yang menyertainya. Dalam Al-Quran dapat ditemukan ayat yang berkaitan dengan poligami yaitu Q.S. An-Nisa ayat 3. Dimana, ketika Islam dipahami secara kontekstual seperti pada saat reformasi Mesir yang dipimpin oleh Muhammad Abduh, dapat disimpulkan hukum tersebut dapat  mengurangi bahkan menghindari pernikahan banyak atau poligami.

Namun, kontroversi timbul di Indonesia, karena adanya masyarakat yang pro dan kontra terhadap poligami. Dari pihak masyarakat yang sekuler cenderung melanggar hukum pernikahan meliputi poligami, pendaftaran nikah dan usia minimum untuk menikah. Dibanding pihak Muslim atau yang belajar ilmu fiqih cenderung mematuhi atauran yang berlaku tersebut, dimana ketika ingin berpoligami atau menikah selalu meminta ijin terlebih dahulu pada pihak yang berwenang. Ketidakpatuhan ini berdampak negatif pada kaum perempuan terutama pada aksesnya ke aspek pendapatan dan investasi, terkhusus pada perempuan yang menikah poligami tetapi tidak terdaftar. Pada kondisi yang sah, seharusnya perempuan dapat memiliki hak untuk menjaga atau mengelola harta suaminya dan jika suami tidak menyediakan maka istri berhak untuk menagih apa yang telah menjadi haknya. Sebaliknya jika pada pernikahan siri maupun poligami yang tidak terdaftar, tidak adanya perlindungan hukum yang sah untuk istri dalam mendapatkan haknya berupa harta maupun lainnya dapat mudah disewenang-wenangkan oleh suami. Meskipun begitu saat ini dapat diasumsikan jika istri hanya dapat sedikit dari harta suami itulah bentuk kambing hitam jika poligami terjadi. Pada penelitian Nina, ditemukan bahwa perempuan atau istri menjadi tonggak utama dalam perekonomian keluarga dimana akan mejelaskan bagaimana perempuan mempekerjakan kemampuan ekonomi secara strategis yang dapat memicu peluang terjadinya poligami sah dan tidak sah.

Penelitiannya berdasarkan pada studi lapangan yang diambil pada 3 kota di Jawa Barat (Bandung, Bogor dan Depok) dan Jakarta dari Desember 2003 hingga April 2004 yang diperbaharui pada tahun 2012. Dilakukan juga wawancara dengan 74 informan baik laki-laki maupun perempuan, dari total 39 pernikahan, begitu juga dengan 11 anak-anak dari keluarga berpoligami dan 2 komite. Terdapat 3 kasus yang diamati.

Kasus pertama yang diamati adalah poligami antara Atikah, Ikin dan Nuni. Dimana Atikah dan Ikin telah menikah selama 12 tahun dan dikaruniai tiga anak. Saat itu Ikin menginginkan untuk menikah lagi dengan Ikin. Tetapi Atikah dengan berat hati mengijinkan suaminya untuk menikah lagi hingga akhirnya mereka bertiga bertemu, dimana Atikah berusaha member penjelasan pada Nuni supaya tidak menikah dengan Ikin, tetapi tetap bersikeras untuk menjadi sitri kedua walau pendapatan Ikin rendah karena dia tidak mempedulikan itu. Akhirnya Atikah berusaha membatasi dengan hanya menginjinkan suaminya membagi waktu pada istri kedua hanya pada hari Selasa. Apalagi setelah berjalan beberapa saat, Nuni meminta tambahan uang yaitu tiga ratus ribu perbulan, padahal Atikah hanya mendapat 20 ribu untuk dirinya dan anak-anaknya juga pembantu. Karena kesal, Ikin memutusakan untuk menceraikan Nuni yang mempunyai banyak permintaan. Ternyata tidak mudah menceraikan, sehingga saat itu Atikah yang mengurusnya dan meghabiskan denda 5 juta rupiah, tetapi tetap dijalani oleh Atikah supaya keluarganya tetap terjaga dan masalah selesai. Denda sebesar itu diberikan karena Ikin tidak sepenuhnya memberikan hak Nuni dan hanya menikahinya selama 4 bulan. Poligami ini telah berefek negatif dengan mengubah keadaan ekonomi keluarga. Sehingga diperlukan sekali solusi seperti diadakannya perjanjian terlebih dahulu sebelum poligami dijalankan supaya jika terjadi sesuatu telah ada hukumnya dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Selanjutnya kasus kedua yaitu poligami antara Dadi dengan dahlia yang sudah menikah dan memiliki 4 anak, tetapi Dadi menikah dengan Titin. Saat itu Dadi sebagai professor studi Islam sangat menguntungkan Titin secara sosial. Tetapi perubahan terjadi pada Dahlia yang tadinya menerima 10 juta perbulan menjadi 1 juta perbulan yang tidak mencukupi kebutuhannya sehingga harus bekerja lagi. Saat telah memiliki satu anak dengan Titin, Dadi menikah lagi dengan Nita, sehingga Titin meminta becerai karena melihat tidak adanya masa depan jika terus bersama dengan Dadi dan menyerahkan anaknya utnuk dirawat Dadi. Akhirnya Dahlia pun mengalah dengan meminta cerai ke Dadi supaya Nita dapat menjadi istri satu-satunya Dadi. Hal ini sangat disayangkan karena menyangkut masa depan generasi penerus yang secara finansial sudah terbatas dan kondisi psikologi yang kurang mendukung. Sehingga sangat diperlukan bantuan dari pemerintah untuk menanggulangi kemungkinan akibat poligami ataupun peceraian. Seperti sosialisasi dan aktifnya bimbingan konseling serta pengawasan terhadap kehidupan masyarkat. Karena Dadi merasa tidak melanggar hukum pernikahan tetapi tetap kurang setuju karena dia merasa bahwa hukum pernikahan itu telah dicampur atau digabung dengan hukum dari agama lain yang dirasa tidak cocok dengan dirinya yang muslim.

Untuk kasus ketiga, poligami diantara Asep, Sumi dan Nuning yang ilegal. Dimana Sumi yang dinikahi secara legal terkejut saat suaminya, Asep, juga telah menikahi secara ilegal dengan Nuning yang juga telah memiliki anak. Meskipun begitu Sumi memilih untuk menjalaninya dan bersiap-siap jika dicerikan atau minta cerai supaya tidak bergantung lagi pada Asep. Selain itu tetap ada pembagian jatah antara Sumi dan Nuning, dan juga pembagaian jadwal sehingga Sumi merasa pernikahannya tidak bahagia. Sehingga inilah mengapa poligami berefek negatif, karena mempengaruhi kondisi psikologi seseorang yang dapat saja memicu tindakan-tindakan terlarang seperti pembunuhan maupun lainnya. Tetapi jika memang mampu, hal poligami ini tidak ada yang bisa melarang.

Poligami saat ini perlu dikendalikan supaya tidak berefek negatif yang diperlukan kerjasama pemerintah dan masyarakat. Dimana nantinya juga diharapakan bahwa hak-hak perempuan dapat dipenuhi, terutama haknya dalam mengatur keuangan keluarga maupun menjalankan bisnis. Semoga semakin banyak yang belajar untuk mengekang nafsunya terutama nafsu syahwat yang mengundang poligami.

 

Kejayaan Spensa di Ajang FL2SN; Barometer Perkembangan Kesenian di Kab. Wonosobo

 

Tulisan ini dibuat dalam rangka latihan membuat berita. Jika ada kesalahan, mohon maaf dan maklum.

WONOSOBO – Tanggal 2 April, tepatnya hari Rabu, Ajang FL2SN Tingkat Kabupaten Wonosobo dilaksanakan. Dari 11 cabang yang dilombakan, sekitar ada 3 tempat yang dipergunakan. Untuk Cipta Cerpen dan Cipta Puisi dilaksanakan di ruang mulitimedia, ruang kelas (8A-8C) SMP N 1 Wonosobo. Sedangkan  untuk cabang MTQ (Musabaqah Tilawah Quran) putra dan putri diadakan di Masjid Agung Jami’ Wonosobo. Lain halnya, dengan cabang musik karawitan dan kreasi seni tari yang digelar di Paseban ‘Wetan’ dan Paseban ‘Kulon’, Alun – Alun Wonosobo. Begitupun dengan cabang ‘Story Telling’. Meskipun begitu, untuk cabang Cipta Lagu dan Solo Vocal bertempat di ‘Allure’. Karena memang tempat yang terbatas, cabang ‘Vocal Group’ dilombakan di Perpustakaan Daerah Kab. Wonosobo.

Dengan persiapan yang sudah cukup matang. SMP N 1 Wonosobo berharap, dari 11 cabang yang diikuti menndapatkan yang terbaik. Hasilnya pun sebagi berikut, sebagai Juara 1, ada 4 cabang yang meraihnya, antara lain yaitu cabang ‘Vocal Group’, musik karawitan, cipta puisi, dan desain batik. Sedangkan untuk cabang yang meraih Juara 2 terdapat 5 cabang yaitu cabang kreasi seni tari, MTQ Putri, Cipta Lagu, Solo Vocal, dan Cipta Cerpen. Untuk Juara 3 diaraih dalam cabang ‘Story Telling’. Namun, dalam cabang MTQ Putra, SMP N 1 Wonosobo  hanya mendapatkan Juara Harapan 1. Selain itu, juga terdapat SMP lain sebagai rival yang kompetetif, karena berhasil membuat barometer seni di Wonosobo terukur. Seperti SMP Bhakti Mulia, SMP N 2 Selomerto, SMP N 1 Kertek, SMP N 3 Kertek, SMP N 2 Wonosobo, dan  lain – lain.

Seperti yang diulas salah seorang juri cabang ‘Story Telling’ yang mengatakan “Tahun lalu peserta lomba sekitar 50 hingga 60 perserta, tetapi tahun ini hanya sekitar 30-an.” ulas juri tersebut mengenai jumlah peserta yang terus berkurang. Namun, juri atau salah seorang panitia cabang Solo Vocal, mengulas tentang kuatilas perserta dan lombanya, “Tadi ada peserta yang vibrasinya terlalu berlebihan tapi tidak apa – apalah mungkin selanjutnya bisa diperbaiki.” terangnya. Tak hanya beliau saja, dari cabang kreasi musik karawitanpun, salah seorang juri mengatakan “ Banyak yang malah asyik ‘menyeleweng’ dari sejatinya musik karawitan tersebut. Banyak yang malah meninggalkan kegiatn bermusiknya dengan menari atau yang lain yang sebenarnya tidak perlu.” Memang dari kegiatan FL2SN tahun ini masih perlu diperbaiki. Salah satunya adalah mengeanai waktu, pada sambutan sebelum pengumuman hasil, salah seorang panitia berharap agar waktu pelaksanaan seleksi FL2SN tingkat kabupaten, jangan terlalu dekat dengan waktu pelaksanaan seleksi tingkat provinsi. “ Ya, saya harap juara 1 tingkat kabupaten tahun ini diajukan untuk tingkat provinsi tahun depan, agar memunkinkan waktu latihan yang efektif. Ya, saya harap ke dinas seperti itu.” Ulasnya.

 

AJANG BERLATIH DISIPLIN SISWA

Tulisan ini adalah latihan kami dalam membuat teks berita dengan bahasa jurnalistik.

 

Selasa, (4/3) Lomba Tata Upacara dan Peraturan Baris-Berbaris tingkat Kabupaten Wonosobo diadakan di Adipura Kencana. Sejak 3 Minggu yang lalu, sejumlah 18 siswa yang telah terpilih, berusaha dengan giat. Latihan yang cukup memakan waktu,  pikiran serta tenaga ini membuahkan hasil yang maksimal. Mereka dibina oleh Pak Beny dan Pak Rohmat yang notabene dari KODIM. Selain Pak Beny dan Pak Rohmat, tim PBB Spensa juga dibina oleh Pak Harno, Pak Sigit, dan Pak Tikno.

Lomba PBB dan TUB tersebut diikuti 10 SMP se – Kabupaten yang berjenjang ke provinsi. Untuk mendapatkan hasil netral, Dinas Pendidikan  Pemuda dan Olahraga mendatangakan 3 juri dari KODIM Banjaranegara dan 3 Juri yang merupakan kepala Sekolah SMA 1 Wonosobo, SMA 2 Wonosobo, SMA Muhammadiyah Wonosobo.

Dari penilaian juri, diperoleh Juara I yaitu SMP N 2 Wonosobo, Juara II yang disabet SMP N 1 Wonosobo, dan Juara III diraih SMP N 2 Selomerto. Bagi siswa SMP N 1 Wonosobo khususnya merasakan bagaimana manfaat lomba yang menjadi ajang melatih kedisiplinan ini. Mereka merasa bahwa dalam kompetisi ini, membutuhkan kerja sama tim.

“ Sukanya dalam lomba tersebut adalah mendapatkan banyak teman, pemgalaman, sikap disiplin. Tapi dukanya rambut dipotong, ketinggalan pelajaran dan ulangan, tambah hitam.” ujar Sinta Dewi, salah seorang siswa yang mengikuti lomba itu.

Motivasi mereka mengikuti lomba adalah supaya menang, mendapatkan penghargaan, memudahkan dalam mendaftar SMA, di samping itu mereka juga menyukai baris berbaris. Pesan mereka untuk adik kelas yang akan mengikuti lomba di tahun depan, lebih serius lagi latihannya karena memerlukan kerja sama tim. Semoga sukses selalu! (Suci, Kamal, Alya)

 

Mengenai Pakaian

Definisi Pakaian menurut Wikipedia; Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan & tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Manusia membutuhkan pakaian untuk melindungi & menutup dirinya. Namun saat ini pakaian juga digunakan untuk simbol status, / kedudukan seseorang.

  1. Tuntunan Berpakaian Menurut Al-Qur’an dan Hadits.

Pakaian adalah termasuk nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta’al berfirman:

Hai anak Adam sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa  itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Q.S. Al-A’raf: 26).

Dan seyogyanya pakaian itu baik, indah dan bersih, Allah Ta’ala berfirman:

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap [memasuki] masjid makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al-A’raf: 31).

dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan [siapa pulakah yang mengharamkan] rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu [disediakan] bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus [untuk mereka saja] di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Q.S.Al-A’raf: 32).

Dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi pu.” Maka berkatalah seorang lelaki: “Sesungguhnya orang itu agar pakaian baik dan sandalnya baik pula.” Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah itu indah lagi mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah mengingkari kebenaran dan meremehkan manusia. [1].

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik, lagi menyukai kebaikan; Bersih lagi menyukai kebersihan” Mulia lagi menyukai kemuliaan’ dan Dermawan lagi menyukai kesermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahnu, dan janganlah kamu menyerupai orang-orang Yahudi.”

  1. Klasifikasi Pakaian Dari Sisi Syari’ah
  1. Pakaian Wajib. Yaitu pakaian yang menutupi aurat, melindungi diri dari panas dan dingin serta menjauhkan bahaya. Dari Hakim bin Hizam, dari ayahnya, dia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, mengenai aurat kita, maka apakah yang harus kami tutup dan apakah yang boleh kami tinggalkan ?” Beliau bersabda: “Peliharalah auratmu kecuali dari isterimu atau hamba sahayamu.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, bila orang-orang gitu sedang berkumpul?” Beliau menjawab: “Bila engkau dapat menjaganya untuk tidak dilihat seseorang, maka janganlah seseorang itu melihatnya.” Aku bertanya: “Apabila salah seorang diantara kita sedang sendirian?” Beliau menjawab: “Allah Ta’ala itu lebih berhak agar seseorang merasa malu kepada-Nya.” [2].
  2. Pakaian Sunnah. Yaitu pakaian yang mengandung keindahan dan hiasan. Dari Abu Darda’ r.a., dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.” Sesungguhnya kamu hendak datang kepada saudara-saudaramu yang seagama, maka bersihkan dan indahkan kendaraan kamu dan juga pakaian kamu, sehingga kamu itu nampak bagaikan tahi lalat tubuh di kalangan orang-orang (indah dan menonjol)’ karena sesungguhnya Allah itu tidak menyukai pakaian kumal dan sengaja berpakaian kumal.”[3]. Lebih utama lagi dalam beribadah, pada hari Jum’at, pada kedua hari raya, dan dalam pertemuan-pertemuan umum.
  3. Pakaian yang haram. Yaitu pakaian dari sutera dan emas bagi lelaki, lelaki yang memakai pakaian khusus bagi perempuan, perempuan yang memakai pakaian khusus bagi laki-laki, dan memakai pakaian kemegahan dan kesombongan, serta pakaian yang mengandung unsur berlebihan.
  1. Adab Berpakaian Dan Batasannya

1.Pakaian menutup semua aurat.
Demikianlah, syariat Islam mendorong pemeluknya untuk senantiasa mengutamakan rasa malu pada setiap keadaan.  Larangan untuk menampakkan aurat ini bersifat umum.

  1. Mengenakan pakaian mulai dari kanan, melepasnya mulai dari kiri dan Berdoalah

3.Hindari pakaian haram

  1. Sutera : bahan yang sangat indah ketika menjadi suatu pakaian. Oleh karenanya, seringkali sutera menjadi perlambang kekayaan dan tingginya kedudukan bagi pemakainya. Namun kita mesti tahu bahwa sutera adalah bahan pakaian yang dilarang dipakai dalam Islam, utamanya bagi kaum laki-laki umat ini. Ini berkaitan dengan kandungan yang ada dalam sutera. Untuk kesehatan kaum pria memang tidak diperbolehkan karena kandungan dalam sutera yang berbahaya hanya dapat keluar dari tubuh lewat siklus mentruasi yang hanya dialami oleh kaum hawa. Jika berpenyakit, sesuai hadits nabi, dapat digunakan tetapi jika benar-benar mendesak.
  2. Muashfar : muashfar adalah pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur, suatu jenis tumbuhan yang dipakai untuk mewarnai pakaian dan menjadikan warna pakaian menjadi kuning atau merah.
  3. Pakaian untuk ketenaran/kesombongan : Pakaian kesombongan (syuhrah) adalah pakaian yang dipakai oleh pemakainya untuk menyombongkan diri di antara orang banyak
  4. Pakaian dari kulit hewan buas : Pakaian dari kulit hewan buas dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan dan tak lazim. Selain itu, karena sifat serat kulit hewan tidak awet jika lembab sehingga tidak cocok untuk dijadikan pakaian sehari-hari.

Saya dan Harapan

 

‘Pemikir’, mungkin kata inilah yang menjadi kesan pertama, setiap komunikasi yang terjalin pada saya. Banyak impian yang ingin sekali saya perjuangkan. Kini, saya baru memulainya dengan menjadi aktivis berbagai organisasi di sekolah. Saya begitu menikmatinya walau rindu dengan keadaan di rumah, di Wonosobo. Saya berharap segala usaha akan membuahkan hasil. Saya sangat berterimakasih seandainya impian saya tercapai dan bermanfaat bagi orang lain.

Terkait dengan diri saya ataupun hobi saya antara lain yaitu membaca, menulis dan membuat kerajinan. Saya senang sekali berdebat dan sering menjadi bagian ‘Humas’ jika ada sebuah kegiatan. Saya sadari betul kemampuan komunikasi saya, walaupun volume suara saya kurang dari normal. “Terlalu lembut dan pelan” kata teman-teman, tapi hal itu sangat bermanfaat, karenanya diri saya sangat berhati-hati ketika berbicara. Dengan mengikuti berbagai organisasi baik di dalam maupun luar sekolah, saya merasa pengalaman saya bertambah dan mengerti tentang berbagai aspek yang seharusnya diperhatikan oleh para kaum muda saat ini. Contoh saja, akhlaq berupa sikap yang sangat terpengaruhi oleh lingkungan. Banyak sekali saudara-saudari saya yang perlu dibenahi. Saya sangat berharap saya dapat bermanfaat untuk semua orang. Mengajak semua saudara-saudari saya untuk bangkit, berubah, menjadi lebih baik untuk masa depan yang menjanjikan.

Kita sebagai seorang anak mendapat teladan dari kedua orang tua. Dengan latarbelakang putri dari guru, saya sangat ingin juga seperti mereka. Saya sangat ingin menjadi guru yang dapat berbagi ilmu walau saat ini ada berbagai kendala. Mulai dari birokrasi, penempatan, jam mengajar, tuntutan, sertifikasi, dan lainnya. Saat ini saya sangat menyukai mata pelajaran kimia. Saya sangat ingin menjadi guru kimia suatu saat nanti. Selain itu saya juga sangat ingin menjadi penghafal Al-Quran dengan target 3 tahun kedepan. Semoga saya bisa memberi mahkota kepada orang tua saya di surga nanti dengan usaha itu.

            Saya sangat ingin sebelum lulus dari Sekolah Menengah Atas ini. Saya dapat menjadikan masjid sekolah begitu juga masjid lain selalu bersih, ramai dan semua yang mengunjunginya mendapat hikmah dan ridho dari Allah SWT. Selain itu saya juga sangat ingin bahwa semua pemuda merasa jika penelitian ilmiah, jurnalistik/pers, kesenian tradisional, lingkungan hidup dan kesehatan rohani harus selalu diperhatikan.

Saya ingin sekali menyampaikan betapa pentingnya diri kita memiliki prinsip atau landasan hidup. Prinsip disini akan mempengaruhi jalan pikir kita begitu juga bagaimana sikap kita. Saya ingin menulis tentang banyak hal, termasuk apa yang saya pikir, saya rasa, dan tentunya yang saya harapkan. Salah satu prinsip saya yaitu ‘Logika tanpa logistik legeh’, itu sangat berkaitan dengan kehidupan kita. Kita malas berpikir atau bekerja tanpa adanya makanan atau kebutuhan jasmani dan rohani lainnya. Mengutip dari pantun ayah saya

“Temanku Anggun pandai sekali, bajunya bagus warnanya biru.

Kalau buat karya buatlah yang asli jangan hanya pandai meniru.”

Jangan pernah menyerah semuanya. Setiap detik, paling tidak kita punya sebuah karya, walaupun hanya bayangan. Selangkah demi langkah, kita akan mencapainya. Aku jadi teringat dengan pembelajaran di sekolah. Dimana aku diajari bagaimana menguasai berbagai ilmu. Ternyata, kunci supaya kita semua bisa adalah sabar. Selalu berpikir postif dan jangan ragu. Saya ingat sekali dengan nasihat guru saya. Beliau adalah guru bahasa Inggris saya. Beliau berkata ” If you will be successful, you must do anything on time.” Semoga kita dapat selau tepat waktu. Terutama saat beribadah.

Harapan untuk Kabupaten Purworejo sangat banyak. Saya sangat ingin Purworejo dapat menjadi semacam smart city. Saya berusaha penuh bersama teman-teman dengan kemempuan programming kami, menciptakan hal serupa untuk kemajuan kita kita bersama. Selain itu kami juga ingin memperbaiki tata kota Kabupaten Purworejo supaya banjir dan longsor dapat ditangani. Terkait dengan kepariwisataan, saya sangat ingin ada perbaikan, supaya semakin banyak wisatawan yang datang dan menambah pendapatan daetah untuk memajukan Kabupeten Purworejo dan perbaikan infrastruktur. Jadi, Ayo ke Purworejo, salah satu dari kabupaten yang berjuang menjadi Kabupaten Layak Anak(KLA).

Surat Penawaran

Berikut contoh surat penawaran

           logo instansi PEMERINTAH KABUPATEN LUBANGSAMPANG

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 LUBANG

Jalan Tentara Pelajar 55, Telepon (0275) 321537 & 321241 Lubangsampang 54114

Fax : (0275) 321537 Email : sman1pwj@yahoo.com

Website http://www.sma1-pur.sch.id

logo pengakreditasi instansi

Lubangsampang, 12 November 2012

Nomor : 426.2/1054/2012      
Lampiran :     Kepada
Perihal : Undangan Pemasukan

Dokumen Penawaran Pengadaan Kusen Alumunium Bangunan Kelas

SMAN 1 Lubang

  Yth. Direktur PT. JAYA READYMIX

Jl. Industri Barat III Kav. I LIK Bugangan Baru

Telepon/Fax (024) 6581853

SEMARANG

 

 

 

Berkaitan dengan pelaksanaan rehabilitasi bangunan kelas di SMAN 1 Lubang pada tahun anggaran 2012, kami mengundang perusahaan saudara untuk mengajukan penawaran pengadaan kusen alumunium bangunan kelas dengan total Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Rp. 65.000.000 (enam puluh lima juta rupiah), yang bersumber dari dana komite sekolah Tahun Anggaran 2012/2013. Untuk itu dimohon Saudara mengambil dokumen pengadaan dan mengikuti proses pengadaan sesuai jadwal sebagai berikut:

No Uraian Jadwal Kegiatan Waktu Pukul
1 Pendaftaran dan Pengambilan Dokumen Pengadaan Rabu, 14 November 2012 08.00 – 12.00
2 Pemasukan Dokumen Penawaran Jumat, 16 November 2012 09.00-selesai
3 Pembukaan Dokumen Penawaran Sabtu, 17 November 2012 10.00
4 Klarifikasi dan Negosiasi Senin, 19 November 2012 09.00
5 Penandatangan SPMK Kamis, 22 November 2012 09.00

 

Atas perhatiannya, diucapkan terima kasih.

Panitia Pelaksana Rehabilitasi Kelas

SMA Negeri 1 Lubang

 

 

 

Drs. Gunawan, M.M.

NIP 19611103 198703 1 010

 

Mengetahui,

Kepala SMA Negeri 1 Lubang

 

 

 

Dra. Budiastuti, M.Pd.

NIP. 19601115 198703 2 006

 

 

DITERIMA 2012